It is very important in English teaching and learning process to maintain the habit to practice and rehearse for the learners. the practice of English skill is not merely for speaking or for listening, but for reading even writing as well. As we know, the English skill only can be achieved well if the learners keep trying to practice their ability. from low level students to higher level of English learner, they will never get maximum achievement without practicing. As we are familiar with the proverbs " practice make perfect". in the theory of Habitus, one will absolutely automatically get the personality or get the thing become usual for them, if they always do the things regularly. for this reason, I need to know whether the method of teaching witing using writing diary will be effective or not. The method is still in progress because it is the odd semester for learners in STAIN Kediri. the semester runs for two months before it end up next December.
for almost two months, I've given to the students of 2nd foreign learner as a stranger. we are the same......................................................................
ima@fitria
Sabtu, 05 November 2016
Jumat, 28 Oktober 2016
It's nothing
Cerita di antara anak manusia memang bermacam-macam. indah, suka, duka, senang, sedih maupun bahagia, semua itu tidak lepas dari sifat manusia itu sendiri yang memang selalu berubah-rubah perasaannya. manusia bisa mengalami sedih disaat bahagia begitu juga sebaliknya.
perasaan apapun itu, yang jelas jika ada dalam batinnnya, yang tahu hanya Allah dan orang tersebut.
jujur dan Allah memerintah kami sebagai umat Islam untuk selalu mengedepankan akhlak.
berbagai peristiwa itu sedikit menggelitik perasaan, astaghfirullah 'adzim..........ampuni hamba Allah. hal itu dosa dan tidak dibenarkan. Tapi apapun itu, tidak bisa dihukum apa-apa, sudah menyadarinya dan berusaha menghilangkannnya. sadar anak suami ada disamping. semoga orang-orang yang juga mengalami seperti ini, bisa menyikapinya dengan baik.
jauhkan hal-hal itu dan ingatlah Allah, ingatlah hanya Allah yang ada di dada.
biarlah perasaan-perasaan itu menjadi kenangan indah. yang meskipun sepertinya ada pihak ketiga yang tahu which is orang tersebut. Tapi ya sudahlah...terimakasih Allah, Engkaulah maha pembolak-balik perasaan.
maka rindu ini harus dihentikan. sekali lagi terimakasih....
perasaan apapun itu, yang jelas jika ada dalam batinnnya, yang tahu hanya Allah dan orang tersebut.
jujur dan Allah memerintah kami sebagai umat Islam untuk selalu mengedepankan akhlak.
berbagai peristiwa itu sedikit menggelitik perasaan, astaghfirullah 'adzim..........ampuni hamba Allah. hal itu dosa dan tidak dibenarkan. Tapi apapun itu, tidak bisa dihukum apa-apa, sudah menyadarinya dan berusaha menghilangkannnya. sadar anak suami ada disamping. semoga orang-orang yang juga mengalami seperti ini, bisa menyikapinya dengan baik.
jauhkan hal-hal itu dan ingatlah Allah, ingatlah hanya Allah yang ada di dada.
biarlah perasaan-perasaan itu menjadi kenangan indah. yang meskipun sepertinya ada pihak ketiga yang tahu which is orang tersebut. Tapi ya sudahlah...terimakasih Allah, Engkaulah maha pembolak-balik perasaan.
maka rindu ini harus dihentikan. sekali lagi terimakasih....
Tawakkal bukan Pasrah
Menjadi pribadi yang tawakkal bukanlah hal yang mudah. tawakkal adalah bekerja, berusaha, beramal, bergerak, tidak diam, terus belajar meskipun aral melintang, meskipun banyak sekali rintangan. Berusaha, bergerak, belajar tidak cukup tanpa doa. Kenapa doa? karena kita punya Allah tempat kita bernaung, tempat kita memohon segala apa yang kita harapkan. Setelah bekerja, berusaha, bergerak dan berdoa, lalu apa yang harus dilakukan?. Serahkan semua yang kau usahakan pada Sang Khalik, Allah SWT.
Sudah sifat dasar manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki akal, memiliki potensi untuk melakukan segala aktifitas. Lalu mengapakah manusia diam, manusia pasrah tanpa melalukan usaha. jika hal itu dilakukan, maka hal ini berarti meyalahi kodrat manusia yang diberi potensi lebih dari pada makhluk lain dimuka bumi ini.
Apakah usaha manusia bahkan umat Islam yang sudah bekerja,berusaha demi penghidupan didunia ini, ditambah dengan doanya kepada Illahi Rabbi, tidak akan mendapat balasan? Maka suatu kesalahan besarlah bagi mereka yang beranggapan bahwa usaha di dunia ini hanya akan dibalas di dunia. Apa yang kitya usahan di dunia dengan penuh keikhlasan yang diniatkan untuk ibadah, maka InsyaAllah Allah tidak tidur. Allah mendengar hambanya yang berusaha dan berdoa. Dan bagi siapa yang sudah memasrahkannya pada kehendak Nya.
Tunggulah dan yakinlah balasan itu akan jauh lebih besar.
Sebaliknya, janganlah menjadi manusia yang pasrah pada keadaan. Manusia yang demikian benar-benar sudah menzalimi dirinya sendiri. potensi akal dan kesehatan fisik adalah lebih dari cukup untuk mengubah dunia ini. Mulailah dari mengubah diri-sendiri. Maka dunia akan kou genggam dan akhirat sudah didepan mata.
Sudah sifat dasar manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki akal, memiliki potensi untuk melakukan segala aktifitas. Lalu mengapakah manusia diam, manusia pasrah tanpa melalukan usaha. jika hal itu dilakukan, maka hal ini berarti meyalahi kodrat manusia yang diberi potensi lebih dari pada makhluk lain dimuka bumi ini.
Apakah usaha manusia bahkan umat Islam yang sudah bekerja,berusaha demi penghidupan didunia ini, ditambah dengan doanya kepada Illahi Rabbi, tidak akan mendapat balasan? Maka suatu kesalahan besarlah bagi mereka yang beranggapan bahwa usaha di dunia ini hanya akan dibalas di dunia. Apa yang kitya usahan di dunia dengan penuh keikhlasan yang diniatkan untuk ibadah, maka InsyaAllah Allah tidak tidur. Allah mendengar hambanya yang berusaha dan berdoa. Dan bagi siapa yang sudah memasrahkannya pada kehendak Nya.
Tunggulah dan yakinlah balasan itu akan jauh lebih besar.
Sebaliknya, janganlah menjadi manusia yang pasrah pada keadaan. Manusia yang demikian benar-benar sudah menzalimi dirinya sendiri. potensi akal dan kesehatan fisik adalah lebih dari cukup untuk mengubah dunia ini. Mulailah dari mengubah diri-sendiri. Maka dunia akan kou genggam dan akhirat sudah didepan mata.
Kamis, 27 Oktober 2016
sticker
Prepare one new word every day before class begins. write the word at the corner of the board then draw line round the word to make it like a sticker. Then ask the students to find the meaning of the word. If the meaning has been discovered, ask them to use it in sentence. take turn for some students. This activities can be done everyday or every meeting. Hopefully, by doing this, students' vocabulary will increase till the end of semester or program. This activity can be done 5 to 10 minute before the learning process. Moreover, the word used can be related to the lesson heading.
The teacher could check the students improvement from the sentences made by the students.
Teacher's note :
Students activity :
1. Identify new word
2. Find the part of speech
3. Make a sentence using the word given
Practice makes perfect.
Enjoy.
The teacher could check the students improvement from the sentences made by the students.
Teacher's note :
Students activity :
1. Identify new word
2. Find the part of speech
3. Make a sentence using the word given
Practice makes perfect.
Enjoy.
Sabtu, 23 April 2011
Sabtu, 14 Agustus 2010
Suku Sasak
A. REVIEW
Suku bangsa di Indonseia sangatlah banyak jumlahnya dikarenakan wilayah yang cukup luas di tambah wilayah yang berupa pulau-pulau, hal ini menyebabkan persebaran agama Islam yang tidak bisa merata di seluruh Nusantara. Alasan inilah yang dirasa penulis Dr. Erni mempunyai andil yang cukup besar bagaimana agama Islam bias terintegrasi sepenuhnya terhadap suatu masyarakat tertentu. Hal ini dapat ditemukan di suku Sasak yang masyarakatnya terbagi menjadi dua, yaitu masyarakat yang telah secara sepenuhnya menerima Islam dengan meninggalkan adat kebiasaan mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua sebagian anggota suku Sasak yang karena wilayahnya cukup berada di pedalaman sehingga mereka mendapat ajaran Islam yang setengah-setengah dan belum matang.
Istilah untuk kelompok pertama adalah Waktu Lima dan kelompok kedua dikenal dengan Wetu Telu – tidak jelas siapa pembuat istilah tersebut (diduga dikenalkan oleh bangsa Belanda). Kelompok pertama sudah meninggalkan kebiasaan yang bertolak belakang dengan ajaran Islam, sementara kelompok kedua menyesuaikan Islam pada adat mereka bukan sebaliknya. Kedua kelompok satu suku yang cukup bertolak belakang inilah yang jadi pembahasan inti buku ini.
Di samping ulasan topic utama, penulis juga menjelaskan konsep-konsep yang ada pada agama Islam yang telah sepenuhnya dianut Waktu Lima dan konsep-konsep yang ada pada suku Sasak yang masih menganut Wetu telu sebagai pendukung pembahasan masalah. Sementara itu salah satu tujuan penulis menulis buku ini antara lain: Menggambarkan watak Islam parochial di Lombok dan pembagian social keagamaan di kalangan Sasak. Kesimpulan yang bisa ditarik dari buku penelitian etnologi ini adalah bahwa agama Wetu Telu lebih mirip Islam Abangan yang sinkretik sebagaimana penelitian Geertz ( 1960) di Jawa, sementara Waktu Lima lebih pada Islam Ortodoks meskipun begitu tidaklah seperti bentuk Islam santri.
Alasan penulis mengambil Bayan sebagai tempat penelitian karena orang Sasak asli yang tinggal disana yang menjadi sasaran kegiatan dakwah Waktu Lima selama tiga decade terakhir. Para proselitiser ingin menyebarkan ajaran-ajaran dan praktek-praktek Islam sejati. Kegiatan ini berhasil menkonversi cukup banyak penganut Wetu Telu di seluruh kawasan Lombok.
Beralihnya orang Sasak dari Boda menjadi Islam tetapi nominal- Wetu Telu- kemudian menjadi Islam sempurna -Waktu Lima- memperlihatkan dinamisme cultural dalam cara Islam disebarkan. Karena pendatang Waktu Lima yang semakin banyak dan mereka tidak mau tinggal diam saja akan adanya penyimpangan yang dilakukan oleh Wetu Telu, mereka yang dipelopori oleh Tuan Guru ( Ulama) gencar melakukan dakwah. Akan tetapi sangat disayangkan misi dakwah yang dilakukan dari beberapa Tuan Guru kurang berhasil menarik simpati Wetu Telu. Kebanyakan yang masuk madrasah dan datang ke masjid adalah dari anak-anak pendatang Waktu Lima sendiri. Meskipun begitu, kenyataan ini sudah cukup membuat pemimpin tradisional merasa terancam posisinya. Melarang para Kiai ( pemimpin agama di kalangan Wetu Telu) untuk ikut serta dalam berbagai ibadah jama’ah yang dilakukan Waktu Lima dan membatasi tugas-tugas mereka hanya dalam institusi Wetu Telu, yakni Masjid Kuno dan makam keramat adalah langkah strategis yang diambil Pemangku Adat Bayan Agung untuk mencegah agar kaum Wetu Telu tidak mengendurkan kesetiaan pada leluhur.
Kaum Wetu Telu menurut penulis semakin berada pada posisi minoritas dihadapkan pada agresi cultural kaum Waktu Lima. Dengan memperhatikan penetrasi gerakan Islam ortodoks, dan adanya control yang ketat dari pemerintah penulis yakin lama kelamaan integritas dan pandangan religious komunitas Wetu Telu di Bayan akan mengalami transformasi.
Review Per-Bab
Bab 1. Pendahuluan
Dalam bab ini penulis memberikan gambaran cukup jelas mengenai suku Sasak secara umum. Selain memberikan gambaran secara umum dengan dukungan data yang cukup lengkap, penulis juga memberikan detail tentang kebudayaan suku Sasak dari segi luarnya seperti daerah yang didominasi dan bagaimana perkembangan jumlah anggota sukunya. Suku Sasak berada di wilayah provinsi NTB dan tersebar di beberapa Kabupaten, terutama di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur di lereng gunung Rinjani. Penulis mengambil daerah Bayan yang merupakan sebuah ibukota kecamatan sekaligus desa dimana komunitas muslim di sana semakin meningkat.
Studi ini tidak hanya berupaya menguraikan bagaimana orang Bayan mempertahankan identitaas dan praktek-praktek social budaya yang berbeda, tetapi juga memberikan pengetahuan bagaimana orang Bayan berusaha menahan dan menghadapi upaya intensive dari penyiaran kegiatan-kegiatan dakwah Islam Waktu Lima untuk memurnikan iman dan praktek keagamaan mereka. Penelusuran terhadap berbagai kelompok dakwah Islam yang bekerja di kalangan orang Bayan Wetu Telu juga sangat penting untuk studi ini. Dinamika social berbeda dengan antagonism social yang ada antara dai-dai Waktu Lima dengan orang Wetu Telu.
Bab 2. Agama, Islam dan Adat
Salah satu konsep agama menurut Giddens “Agama terdiri dari seperangkat symbol, yang membangkitkan perasaan takzim dan khidmat, serta terkait dengan berbagai praktek ritual maupun upacara yang dilaksanakan oleh komunitas pemeluknya”. Ada dua jenis agama yang disampaikan oleh penulis yakni agama samawi dan agama tradisional yang berarti dalam buku ini agama Samawi diwakili oleh Agama Islam sementara agama tradisional diwakili oleh Wetu Telu. Bisa dikatakan agama tradisional lebih parochial sifatnya dalam hal eksistensinya, kehadiranya dan manifestasinya, serta pengikutnya. Karena agama ini pada umumnya dianut oleh komunitas kecil di desa terpencil dan bersifat local. Sementara itu agama samawi lebih bersifat dunia, yang diistilahkan penulis sebagai agama dunia seperti agama Islam.
Sementara Islam, penulis jelaskan dengan memaparkan ajaran pokok Islam yakni lima rukun Islam dan enam rukun Iman yang wajib ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh pemeluknya. Sementara itu, idiom adat memiliki cakupan yang sangat luas mulai dari makanan, rumah adat, pakaian, gaya berbicara dan lain-lain. Adat mendapat kesahihanya dari masa lampau, karya para leluhur dan keturunanya wajib meneruskan adat tersebut karena leluhur mereka terus mengawasi mereka. Untuk itulah kenapa Wetu Telu sangat getol untuk mempertahankan adat warisan leluhur mereka.
Dari bab ini dapat diambil kesimpulan bahwa agama tidak hanya mengandung symbol-simbol tetapi juga menentukan seperangkat tindakan ritual bagi pengikutnya yang penuh kesahajaan. Sementara agama tradisional seperti Wetu telu lebih banyak berurusan dengan ritual dan pelaksanaan tradisi, daripada dengan penjelasan rasional yang mendasari peribadatan itu. Bagi golongan Waktu Lima yang mengikuti standar Islam universal, bukan hanya praktek religious yang menjadi focus. Akan tetapi penjelasan rasional di balik praktek-praktek keagamaan tertentu. Oleh Karena itu setiap muslim harus memahami ilm sebelum menjalankan suatu peribadatan.
Identifikasi Wetu Telu yang lebih mendekati agama tradisional , dan Waktu Lima lebih pada agama dunia bukanlah suatu pemisahan total. Ada muatan nilai yang dimiliki Waktu Lima yang dimiliki Wetu Telu. Penggunaan doa-doa berbahasa Arab dari Al-Qur’an , Kiai yang menjalankan peran sebagai Imam di masjid merupakan unsure penting kepercayaan Wetu Telu yang dipungut dari Islam. Akan tetapi unsure-unsur tersebut tidak mengubah secara substansial bentuk-bentuk animism dan antropomorfism Wetu Telu.
Bab 3. Peran Islam di Indonesia dan Perkembangannya dalam Setting social, cultural dan politik.
Islam di Indonesia adalah Islam yang heterogen dan kompleks. Umat Islam Indonesia dibagi berdasarkan kesetiaan sosio-cultural dan ploitik. Pemilahan cultural merentang dari mereka yang mengikuti bentuk Islam yang paling ketat hingga yang kurang taat, seperti Islam Nominal. Bagi kelompok kedua Islam hanyalah sebuah sebutan legal formal, bukan keyakinan agama yang tulen. Pemilahan ini di Jawa terkenal dengan istilah Santri dan Abangan sedangkan di Lombok ada istilah Waktu Lima dan Wetu Telu. Bagi kelompok yang lebih taatpun juga masih ada pemilahan, yakni modernis dan tradisionalis. Orang-orang Islam modernis diilhami oleh gagasan Muhammad Abduh. Mereka berusaha mengaplikasikannya melalui organisasi modernis pertama yakni Muhammadiyah. Kemunculan organisasi ini ditandai dengan keprihatinan terhadap pandangan tradisional yang sangat kolot. Merasa terancam kaum tradisionalis membuat organisasi sendiri dalam NU guna melindungi kepentingan mereka. Para ulama ortodoks memegang control dominan dalam organisasi ini. Namun demikian, akhir-akhir ini mereka malah bergandeng tangan dalam usaha mengurangi perselisihan. Mereka sadar behwa perbedaan mereka hanya masalah praktek dan strategi bukan prinsip.
Setelah Orde lama yang tidak begitu kooperatif dengan kaum ortodoks berlalu, Orde Baru malah mendapat dukungan dari kalangan Islam ortodoks. Berharap mereka mendapat lebih banyak akses menuju kekuasaan, ternyata kekuasaan Soeharto lebih parah lagi dalam memberangus kekuatan politik Islam. Walaupun begitu, pemeritah Orde Baru tidak menghalang-halangi Islam untuk bergerak sebagai sebuah kekuatan spiritual dan moral. Pemerintah juga mendukung perkembangan pendidikan Islam dan perluasan aktifitas dakwah. Selain itu pemerintah juga mengijinkan lebih banyak intelektual Islam untuk mencurahkan perhatian pada berbagai problem social yang dihadapi umat asalkan tidak menyinggung wilayah politik. Dalam hal ini kepedulian pemerintah sejalan dengan kepedulian organisasi-organisasi Islam, yaitu keterbelakangan, kemiskinan, buruknya pendidikan, pengangguran dan kurangnya kesejahteraan. Tampaknya alasan yang terakhir tidak disia-siakan oleh kelompok Waktu Lima untuk gencar berdakwah.
Bab 4. Desa
Gelombang migrasi membawa perbaikan infrastruktur desa dan kemajuan perdagangan. Orang Bayan asli sebagian besar masih bergantung pada pertanian subsistem dan beberapa tanaman komersial. Dengan adanya pendatang, beberapa tanah orang asli Bayan menjadi milik tetap pendatang karena proyek transmigrasi. Berkurangnya tanah yang dimiliki orang asli Bayan merupakan sebuah konsekuensi yang kemudian berakibat pada kurangnya otonomi desa dan status penguasa tradisional Wetu Telu.
Bab 5 Kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan Wetu Telu
Penelitian sosioligis ilmuwan Barat abad ke-20, seperti Van Eerde dan Professor Bousquet, menunjukkan bahwa di kalangan masyarakat Sasak terdapat tiga kelompok keagamaan; Sasak Boda, Waktu Lima dan Wetu Telu. Sasak Boda disebut-sebut sebagai agama asli masyarakat Lombok. Kendati dari penyebutannya mirip dengan kata Budha, mereka bukanlah penganut Budhisme, karena mereka tidak mengakui Sidharta Gautama sebagai figur utama pemujaannya maupun terhadap ajaran pencerahannya (Budiwanti, 2000, 8). Menurut Erni Budiwanti, agama Boda ditandai oleh animisme dan panteisme. Pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur dari berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktek keagamaan Sasak Boda.
Sementara penganut Wetu Telu diidentikkan dengan mereka yang dalam praktek kehidupan sehari-hari sangat kuat berpegang kepada adat-istiadat nenek moyang mereka. Dalam ajaran Wetu Telu, terdapat banyak nuansa Islam di dalamnya. Namun demikian, artikulasinya lebih dimaknakan dalam idiom adat. Di sini warna agama bercampur dengan adat, padahal adat sendiri tidak selalu sejalan dengan agama. Pencampuran praktek-praktek agama ke dalam adat ini menyebabkan watak Wetu Telu menjadi sangat sinkretik.
Beberapa kalangan melihat fenomena Wetu Telu dalam makna yang sama dengan penganut Islam abangan atau Islam Jawa di Jawa, sebagaimana trikotomi yang diajukan Geertz, dan ditulis oleh Mark Woodward. Namun penyebutan Islam Wetu Telu ini disangkal oleh Raden Gedarip, seorang pemangku adat Karangsalah. Menurutnya, “Islam hanya satu, tidak ada polarisasi antara waktu tiga (Wetu Telu) dan Waktu Lima“. Sebenarnya Wetu Telu bukan agama, tetapi adat“ (wawancara, 2004). Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa masyarakat adat Wetu Telu ini mengakui dua kalimah syahadat, “Tuhan kami yang kuasa dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah”. Dua kalimat syahadat pun diucapkan oleh penganut Wetu Telu ini, setelah diucapkan dalam bahasa Arab, kata Gedarip, diteruskan dalam bahasa Sasak, misalnya: Asyhadu Ingsun sinuru anak sinu. Anging stoken ngaraning pangeran. Anging Allah pangeran. Ka sebenere lan ingsun anguruhi. Setukhune Nabi Muhammad utusan demi Allah. Allahhuma shali Allah sayidina Muhammad”. Artinya: “Kami berjanji (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan kami percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Disebut “berjanji” karena diakui sudah menerima agama Islam.
Selanjutnya ia mensinyalir bahwa lahirnya istilah Islam Wetu Telu ini berasal dari zaman penjajahan Belanda yang menjalankan politik devide et et impera untuk memecah belah kekuatan Islam dengan melakukan dikotomi Islam Wetu Telu versus Islam Waktu Lima.
Bagi komunitas Wetu Telu di Bayan, salah satu daerah konsentrasi penganut Wetu Telu, paling tidak ada empat konsepsi mengenai Wetu Telu. Walau berbeda-beda, keempatnya merupakan satu kesatuan pengertian, karena masing-masing tokoh yang diwawancarai mengakui konsepsi yang dikemukakan oleh tokoh Wetu Telu lainnya (Wawancara, 2005).
Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa Wetu Telu berarti tiga sistem reproduksi, dengan asumsi kata Wetu berasal dari kata Metu, yang berarti muncul atau datang dari, sedangkan Telu berarti tiga. Secara simbolis hal ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul (metu) melalui tiga macam sistem reproduksi; 1) melahirkan (menganak), seperti manusia dan mamalia; 2) bertelur (menteluk), seperti burung; dan 3) berkembang biak dari benih atau buah (mentiuk), seperti biji-bijian, sayuran, buah-buahan, pepohonan dan tetumbuhan lainnya. Tetapi fokus kepercayaan Wetu Telu tidak terbatas hanya pada sistem reproduksi, melainkan juga menunjuk pada kemahakuasaan Tuhan yang memungkinkan makhluk hidup untuk hidup dan mengembangbiakkan diri melalui mekanisme reproduksi tersebut.
Kedua, persepsi yang mengatakan bahwa Wetu Telu melambangkan ketergantungan makhluk hidup satu sama lain. Menurut konsepsi ini, wilayah kosmologis itu terbagi menjadi jagad kecil dan jagad besar. Jagad kecil disebut alam raya atau mayapada yang terdiri atas bumi, matahari, bulan, bintang dan planet lain, sedangkan manusia dan makhluk lainnya merupakan jagad kecil yang selaku makhluk sepenuhnya tergantung pada alam semesta.
Ketergantungan jagad kecil kepada jagad besar tercermin dalam kebutuhan mutlak jagad kecil akan sumber daya penting; tanah, udara, air dan api. Pada saat yang sama, jagad besar juga tergantung kepada jagad kecil dalam hal pemeliharaan dan pelestarian. Di luar itu, kemahakuasaan Tuhan berperan penting dalam menggerakkan ketergantungan antar makhluk. Ketergantungan inilah yang kemudian menyatukan dua dunia tersebut dalam suatu keseimbangan. Ketidakseimbangan dapat terjadi apabila manusia sebagai bagian dari jagad besar terlalu tamak (melak) dalam mengeksploitasi jagad besar.
Ketiga, konsepsi yang menyatakan bahwa Wetu Telu sebagai sebuah sistem agama termanifestasi dalam kepercayaan bahwa semua makhluk melewati tiga tahap rangkaian siklus; dilahirkan (menganak) hidup (urip) dan mati (mate). Kegiatan ritual sangat terfokus pada rangkaian siklus ini. Setiap tahap, yang selalu diiringi upacara, merepresentasikan transisi dan transformasi status seseorang menuju status selanjutnya; juga mencerminkan kewajiban seseorang terhadap dunia roh.
Keempat, konsepsi yang menyatakan bahwa pusat kepercayaan Wetu Telu adalah iman kepada Allah, Adam dan Hawa. Konsep ini dari pandangan bahwa unsur-unsur penting yang tertanam dalam ajaran Wetu Telu adalah; 1) Rahasia atau Asma yang mewujud dalam panca indera tubuh manusia; 2) Simpanan Ujud Allah yang termanifestasikan dalam Adam dan Hawa. Secara simbolis Adam merepresentasikan garis ayah atau laki-laki, sementara Hawa merepresentasikan garis ibu atau perempuan. Masing-masing menyebarkan empat organ pada tubuh manusia; 3) Kodrat Allah adalah kombinasi 5 indera (berasal dari Allah) dan 8 organ yang diwarisi dari Adam (garis laki-laki) dan Hawa (garis perempuan). Masing-masing kodrat Allah bisa ditemukan dalam setiap lubang yang ada di tubuh manusia -dari mata hingga anus.
Ritual-Ritual Keagamaan Wetu Telu
Sehubungan dengan kepercayaan tersebut, penganut Wetu Telu mengadakan ritual-ritual yang terkait dengan siklus di atas. Adapun ritual-ritual (upacara) yang terkait dengan kehidupan dinamakan gawe urip, yang mencakup seluruh tahapan hidup manusia semenjak dilahirkan hingga menikah. Yang termasuk dalam gawe urip, antara lain; 1) Buang Au (upacara kelahiran), merupakan upacara pembuangan abu dari arang yang dibakar dukun beranak (belian) setelah membantu persalinan. Upacara ini dilaksanakan kira-kira satu minggu setelah melahirkan. Pada saat itu pula orang tua mengumumkan nama anaknya setelah berkonsultasi dengan pemangku atau kyai mengenai nama yang cocok untuk anaknya; 2) Ngurisang (pemotongan rambut), merupakan upacara pemotongan rambut yang dilakukan setelah buang au. Upacara ini diadakan untuk seorang anak yang sudah mencapai usia antara 1 sampai 7 tahun. Ngurisang dianggap penting karena setelah ini anak yang menjalaninya disebut selam (muslim) sebagai lawan dari Boda, artinya orang yang belum diislamkan; 3) Ngitanang (khitanan), yang dilakukan saat anak berusia antara 3 hingga 10 tahun. Seperti buang au dan ngurisang, ngitanang juga dipandang sebagai simbol pengislaman. Seorang anak masih tetap Boda sampai ia dikhitan; 4) Merosok (meratakan gigi), merupakan upacara yang menandai peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Dalam upacara ini pemangku atau kiai menghaluskan gigi bagian depan anak laki-laki dan gadis remaja yang berbaring di berugak; 5) Merari/Mulang (“mencuri” gadis) dan Metikah (perkawinan).
Sedangkan ritual-ritual yang dilaksanakan berkaitan dengan kematian disebut gawe pati (ritual kematian dan pasca kematian). Upacara ini dilaksanakan mulai dari hari penguburan (nusur tanah), hari ketiga (nelung), hari ketujuh (mituk), hari kesembilan (nyiwak), hari keempat puluh (matang puluh), keseratus (nyatus) hingga hari keseribu (nyiu).
Dari keempat konsep yang saling mengkait dan merupakan satu kesatuan di atas, warna Islam memang ada dalam kepercayaan Wetu Telu. Warna Islam juga ditemukan dalam ritual-ritual yang berkaitan dengan hari besar Islam, seperti;
Rowah Wulan dan Sampet Jum’at, Maleman Qunut dan Maleman Likuran, Maleman Pitrah dan Lebaran Tinggi, Lebaran Topat , Lebaran Pendek , Selametan Bubur Puteq dan Bubur Abang,Maulud
Sedangkan kepercayaan lainnya adalah kepercayaan akan roh leluhur dan makhluk halus yang menempati benda-benda mati yang disebut penunggu (penjaga). Roh leluhur dianggap penting dalam kepercayaan Wetu Telu, sebagai bukti bahwa antara mereka yang hidup saat ini memiliki keterkaitan dengan mereka yang sudah meninggal dunia. Oleh karena itu, setiap upacara, apapun namanya, selalu diawali dengan upacara pembersihan makam dan meletakkan benda-benda untuk diinapkan di makam leluhur sebelum semua upacara dilaksanakan. Ini dimaksudkan untuk meminta izin sekaligus memberitahu para leluhurnya bahwa mereka mengadakan suatu upacara.
Dari elaborasi tersebut terlihat bahwa pranata yang disebut adat dan kepercayaan Wetu Telu adalah ciri-ciri sinkretik dari praktek keagamaan varian Islam Wetu Telu, dengan penekanan kepada pertalian budaya antara kepercayaan asli Bayan dengan keyakinan Islam Waktu Lima. Pengakuan terhadap Islam oleh komunitas Wetu Telu tidak menggeser secara substansial ritus-ritus yang dinamakan adat, bahkan memberikan sumbangan yang lebih bermakna kepada paham-paham asli yang sudah ada sebelumnya. Akibatnya, tidak ada batasan-batasan secara jelas yang memisahkan ide-ide Islam Waktu Lima dari konsep-konsep Islam Wetu Telu, khususnya pemisahan antara “adat” dan “kepercayaan” Wetu Telu.
Dialektika adat dan kepercayaan Islam Wetu Telu melahirkan sifat-sifat majemuk dari suatu kehidupan sosial di mana warga masyarakat berada dan tunduk pada berbagai aturan pluralistik. Dari heterogenitas budaya ini, melahirkan perilaku masyarakat untuk selalu memberikan hormat kepada warga yang lebih tua, seperti para tetua adat, kepada pimpinan agama mereka (Kiai) selaku pemegang otoritas tradisional yang berpengaruh. Fenomena itu, membentuk kecenderungan kepada cara pandang masyarakat bahwa dalam konteks budaya mereka, kedudukan pejabat informal lebih penting dari pejabat formal. Asumsi ini berakar pada keyakinan bahwa orang-orang yang mengemban jabatan-jabatan informal sebagai manifestasi dari pemegang otoritas tradisional, adalah keturunan dari leluhur mereka “pendiri desa Bayan” atau orang-orang selaku panutan dalam konteks ibadah.
Penjelasan secara jelas tentang kepercayaan yang dianut sebagian suku Sasak yang mengaku Islam tapi hanya secara nominal atau yang terkenal dengan istilah Wetu Telu dengan suku Sasak lain di Bayan yang telah berusaha menganut Islam secara benar dan tidak dicampur-adukkan dengan adat setempat yang tidak sesuai ajaran Islam atau istilah di Lombok Waktu Lima.
Menurut nara sumber Waktu Lima yang diwawancara penulis, menjelaskan praktek keagamaan Wetu Telu Mendapat nama demikian berdasarkan makna harfiahnya, Wetu Telu berarti waktu tiga. Karena penganut Wetu Telu mengurangi dan meringkas hampir semua peribadatan Islam menjadi hanya tiga saja. Contohnya Rukun Islam yang hanya tiga, syahadat, Sholat dan puasa saja, jadi zakat dan haji ditinggalkan. Sholat merekapun cuma tiga kali, shubuh, dzuhur dan ‘ashar saja. Puasa Ramadlan hanya mereka lakukan tiga hari saja bukan 1 bulan. Menurut Waktu Lima hal ini terjadi karena mayoritas Wetu Telu terlampau terbenam kedalam praktek-praktek adat. Terutama pemujaan terhadap leluhur. Wetu Telu memperlihatkan tatacara ibadatnya sangat mirip dengan peribadatan Hindhu Bali. Cara berpakaian, cara menyembelih binatang, makanan sesaji, dan perkawinan. Semua keterangan tersebut di atas adalah pendapat-pendapat orang Waktu Lima yang merupakan rival Wetu Telu, jadi orang Bayan Wetu Telu sendiri punya argument berbeda untuk menjelaskan siapa dan bagaimana Wetu Telu itu.
Bab 6. Tipologi kepemimpinan , Kepemilikan Tanah dan konflik social.
Pada komunitas Waktu Lima symbol kepemimpinan di pegang oleh figure otonom Tuan Guru, pengaruhnya melambung seiring dengan pemekaran pondok pesantren. Pada komunitas Wetu Telu, seperti di Bayan, kepemimpinan lebih variatif. Ada dua tipe kepemimpinan dalam Wetu Telu sendiri, pertama kepemimpinan yang berperan sebelum masuknya Islam dan masih bertahan hingga sekarang yaitu : Pemangku Adat, Perumbak dan Toaq Lokaq. Kedua adalah Kiai yang muncul setelah masuknya Islam. Nama Kiai memiliki konsep berbeda dengan Kiai-kiai di daerah lain, Kiai di Sasak berada di bawah otoritas Pemangku Adat Agung dan masih menganut kepercayaan roh atau animism. Sementara kiainya Waktu Lima adalah Tuan Guru yang memiliki charisma cukup tinggi dan otonom.
Di mata masyarakat Bayan nilai cultural tanah jauh melebihi nilai ekonomisnya. Tanah pribadi maupun tanah komunal ( tanah ageman gontor pair, pecatu untuk para kiai dan tanah situs) mengandung perekat social yang mengikat seseorang dengan kelompok keturunan patrilinealnya. Kebijakan birokrasi tentang transmigrasi ditambah kedatangan kaum Waktu lima menambah ancaman yang cukup besar terhadap status kepemilikan tanah.
Bab 7. Sistem Peringkat, Perkawinan dan Kedudukan Wanita
Hierarki social di Bayan yang memisahkan kaum bangsawan dengan orang biasa secara historis diwarisi dari zaman kerajaan secara turun temurun. Kaum bangsawan mempertahankan diri sebagai golongan kelas atas yang menikmati status tinggi, prestise dan hak-hak istimewa. Mereka mempertahankan status quo melalui seperangkat aturan perkawinan yang membentengi kaum bangsawan dari pria kebanyakan dari status lebih rendah. Ada tiga golongan keturunan bangsawaan yang berbeda, masing-masing berusaha mempertahankan kemurnian status garis keturunan melalui perkawinan endogamy ataupun hipergami. Ada kepercayaan bahwa jika wanita bangsawan diijinkan bebas kawin secara eksogami dengan semua laki-laki dari luar keturunannya, maka akan terjadi penipisan kualitas keluhuran dan ikatan silsilahnya. Syariah Islam yang mengangkat ajaran egalitarian menantang para bangsawan Wetu Telu yang mempertahankan status quo mereka.
Bab 8. Gerakan Dakwah dan Dampak Kulturalnya
Gerakan-gerakan dakwahlah yang mempunyai andil sangat besar terhadap Islamisasi Wetu Telu. Sebelum Islam datang masyarakat Lombok menganut agama asli orang sasak yaitu Boda. Hindu dan Islam adalah agama yang di bawa oleh penakluk tanah Lombok. Agama Hindu dibawa oleh utusan Majapahit sementara Islam dibawa oleh Sunan Prapen utusan Sunan Giri setelah Majapahit hancur. Islam yang dibawa oleh orang Jawa yang pada umumnya sudah mengenal sufi dan kemistikan sangat mudah diterima oleh suku Sasak yang percaya terhadap hal-hal magis. Setelah ditinggalkan oleh sunan Prapen kondisi kemistikan ini semakin dipertebal dengan kepercayan animism suku Sasak tampaknya Islam yang dibawa oleh Ulama Jawa inilah yang melahirkan Wetu Telu. Pada akhir abad ke enam belas kebanyakan mereka menganut Paganisme lagi, orang Makasar datang dengan membawa agama Islam lagi. Berbeda dengan orang Jawa, orang Makasar tidak menenggang kepercayaan asli yang menurut mereka mencemari kemurnian Islam. Mereka membawa Islam Sunni ortodoks yang dari sinilah muncul Islam Waktu Lima yang berada di kawasan Lombok Tengah dan Lombok Timur. Sementara Wetu Telu berada di utara dan selatan gunung Rinjani yang notabennya daerah pedalaman.
Ada beberapa strategi dakwah yang ada di Lombok mulai dari yang melibatkan pemerintah daerah hingga para jin yang dilakukan oleh Tuan Guru setempat. Melalui Tuan Guru (pendiri pondok pesantren), Bekerja sama dengan pemerintah daerah mengadakan pelatihan dai-dai. Dakwah di Masjid, Pengajian-pengajian, Dakwah melalui Khutbah dan shalat Jum’ah, Dakwah melalui Madrasah.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan suatu penalaran induksi analitik yang didasarkan pada data dengan analisis secara terus menerus, baik ketika di lapangan maupun setelah kembali ke meja.Penulis dalam melakukan penelitianya menggunakan metode Deskriptif kualitatif berupa penelitian lapangan atau observasi partisipan. Dia terlibat langsung dengan kehidupan dan budaya suku Sasak terutama yang ada di daerah Bayan, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Banyak informan yang dia temui adalah orang-orang Bayan asli baik yang Waktu Lima ataupun Wetu Telu. Dengan pendekatan deskriptif dan data statistic sebagai pendukung valid. Penulis mula-mula mendeskripsikan hal-hal yang umum lalu mengerucut pada konflik yang terjadi akibat dari akumulasi benturan keadaan yang tidak sejajar. Dapat disimpulkan metode penelitian Dr. Erni sebagai berikut :
1. Desain : Berkembang dan muncul dalam proses penelitian suku Sasak.
2. Tujuan : Menggambarkan realitas yang kompleks
3. Teknik : participant observation. Dokumentasi dan in depth interview.
4. Instrument : peneliti sendiri beserta alat-alat rekam dan dokumentasi.
5. Data : Deskriptif kualitatif
6. Sumber data : Purposive
7. Analisis : Terus menerus dan berkelanjutan sejak awal hingga akhir
8. Hubungan dengan responden: akrab, empati demi mendapat data dan pemahaman mendalam.
C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
Meskipun sebelumnya sudah ada penelitian tentang Suku Sasak, akan tetapi buku ini memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan buku sebelumnya yang pernah melakukan penelitian yang hampir sama. Masing- masing bab dilengkapi dengan rumusan masalah yang mempermudah mengidentifikasikan tema. Penulis memberikan detail yang sangat lengkap tentang keadaan suku Sasak di tambah ulasan tentang teori-teori agama, adat dan Islam sendiri.
Penelitian tentang adat Wetu Telu pernah di lakukan oleh Cederroth tahun 1970-an (1981) akan tetapi yang membedakan adalah pada konflik social yang melibatkan para pemimpin ( tradisonal) asli dan para Da’I yang muncul antara Waktu Lima dan Wetu Telu yang dimunculkan Dr. Erni karena Cederroth hanya membahas bagaimana adat Wetu Telu asli menghadapi kedatangan Waktu Lima. Cederroth melakukan studi di Bayan tahun 1970-an. Ia melaporkan mengenai para migrant muslim ortodoks (Waktu Lima) yang kehidupan social-budaya mereka berbeda dengan orang Bayan asli. Kendati demikian, Ia tidak memberikan banyak perhatian terhadap kegiatan-kegiatan dakwah yang mereka kembangkan. Salah satu alasannya karena Cederroth meninggalkan kampung Bayan persis ketika usaha-usaha dakwah tersebut baru mulai menggeliat di Bayan, terutama setelah munculnya beberapa Tuan Guru yang terlibat dalam misi dakwah.
D. REVIEW
Wacana Islam Wetu Telu dalam hal ini dapat diletakkan dalam kerangka Islam pribumi atau Islam kultural, yaitu proses penghargaan pada tafsir lokal terhadap ajaran Islam dalam manifestasi kehidupan. Penghargaan ini dapat dipahami jika memandang kebudayaan sebagai sumber nilai yang dimaknai dengan tindakan konkret di ruang sosial. Sebagai sumber bagi tindakan, nilai-nilai dalam tradisi atau agama bukanlah nilai yang murni, namun selalu diuji dalam kemampuannya menghadapi persoalan kehidupan. Dalam pengujian itu nilai-nilai tradisi dan agama dapat terus berubah, dinamis, dan bersifat sementara.
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, kelompok Wetu Telu adalah orang-orang Islam yang mempercayai bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Namun demikian, kelompok Wetu Telu masih mempercayai bahwa hal-hal yang mistis dan gaib, terutama terhadap roh-roh leluhur yang dalam kepercayaan mereka masih memiliki andil dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu mereka harus tetap dihormati dengan cara melakukan berbagai ritual adat, khususnya pada saat terjadi daur hidup. Hal ini berkonsekuensi pada praktik-praktik keagamaan mereka, di mana dalam menjalankan kewajiban Islam terdapat banyak kelonggaran-kelonggaran di mana rukun Islam tidak dijalankan secara sempurna. Yang lebih menonjol adalah dalam praktik-praktik keagamaan yang sifatnya sosial kemasyarakatan, seperti upacara untuk merayakan cukuran anak yang baru lahir, khitanan, menyambut bulan Ramadhan, dan lain-lain, di mana dalam praktiknya nuansa Islami dan tradisi lokal dicampuradukkan yang pada akhirnya terjadi akulturasi maupun inkulturasi.
Sebenarnya kami belum menemukan kepuasan tersendiri setelah membaca seluruh buku ini, terutama pada bagaimana hasil konflik social yang terjadi antara Waktu Lima dengan Wetu Telu. Karena kesimpulan yang dibuat penulis hanya mengindikasikan bahwa dampak dakwah yang dilakukan para Tuan Guru dan da’I belum cukup berpengaruh pada komunitas suku Sasak penganut Wetu Telu. Mungkin memang perlu penelitian yang bertahun-tahun untuk melihat suatu perubahan kebudayaan atau adat satu komunitas tertentu. Walaupun sebenarnya penulis telah melakukan penelitian yang cukup lama, 2,5 tahun, akan tetapi waktu selama itu sungguh suatu waktu yang terlalu singkat untuk melihat perkembangan kebudayaan, apalagi adat yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Di lain hal, waktu selama itu adalah waktu yang sangat cukup untuk mempelajari dan menyelami kehidupan suatu suku dan bagaimana mengetahui kebudayaannya secara langsung.Meskipun demikian, apa yang diteliti penulis akan memberikan dampak yang cukup besar bagi suku Sasak sendiri khususnya dan umumnya bagi suku-suku lain di penjuru Nusantara.
Jumat, 13 Agustus 2010
nasehat ramadhan
Bulan Ramadan bulan bertuah
Bulan ibadah bulan mujahadah
Bulan rahmat bulan maghfirah
Bulan al-Quran dan Lailatul Qadar
Bulan ibadah bulan mujahadah
Bulan rahmat bulan maghfirah
Bulan al-Quran dan Lailatul Qadar
.Bulan Ramadan bulan bertuah
Bulan ibadah bulan mujahadah
Bulan rahmat bulan maghfirah
Bulan al-Quran dan Lailatul Qadar
.Besarkan Ramadan dengan puasa
Di waktu malamnya tambahkan ibadah
Bacalah al-Quran banyakkanlah sedekah
Terawih kerjakanlah walaupun sunat
Bulan ibadah bulan mujahadah
Bulan rahmat bulan maghfirah
Bulan al-Quran dan Lailatul Qadar
.Besarkan Ramadan dengan puasa
Di waktu malamnya tambahkan ibadah
Bacalah al-Quran banyakkanlah sedekah
Terawih kerjakanlah walaupun sunat
.Pelihara mata jagalah telinga
Kawallah lidah dari yang sia-sia
Fikirkanlah yang mendatangkan faedah
Hubungkan hatimu dengan Allah
.Zikir selawat doa panjatkan
Pahala Ramadan diganda-gandakan
Jangan lupakan jangan lalaikan
Ramadan tiba setahun sekali
Kawallah lidah dari yang sia-sia
Fikirkanlah yang mendatangkan faedah
Hubungkan hatimu dengan Allah
.Zikir selawat doa panjatkan
Pahala Ramadan diganda-gandakan
Jangan lupakan jangan lalaikan
Ramadan tiba setahun sekali
.Bulan Ramadan bayarlah fitrah
Untuk membersihkan hati dan diri
Sebagai bantuan kepada yang susah
Agar mereka gembira di hari raya
Untuk membersihkan hati dan diri
Sebagai bantuan kepada yang susah
Agar mereka gembira di hari raya
.Allahu ya Allah
Kepada-Mu kami beriman
Kerana-Mu kami berpuasa
Di bulan ini bulan yang mulia
Kami mohon rahmat-Mu ya Allah
Keampunan-Mu wahai Tuhan
Kepada-Mu kami beriman
Kerana-Mu kami berpuasa
Di bulan ini bulan yang mulia
Kami mohon rahmat-Mu ya Allah
Keampunan-Mu wahai Tuhan
.Banyakkan iktikaf di sepuluh hari terakhir
Lailatul Qadar berlaku di malam itu
Kitakan mendapat pahala yang besar
Seperti beribadah seribu bulan
Lailatul Qadar berlaku di malam itu
Kitakan mendapat pahala yang besar
Seperti beribadah seribu bulan
.
Langganan:
Postingan (Atom)

